Ketika Daun Gugur Jadi Penyesalan



Ketika daun-daun pohon gugur

dari ceruk matamu yang teduh, musim seolah terbakar.

Angin utara bertiup menuju lautan, di mana kura-kura menanam telurnya di pantai.

Di sana, kutanam juga telur-telur perasaanku, dalam luka yang lahir dari guguran daun dari matamu.


Ketika aku masuk rumah,

rindu dan aroma tubuhmu tercecer di setiap sudut.

Hanya ada baju menggantung, seolah dirimu mengepung ingatanku Tembok yang basah menceritakan banyak rahasia yang kita susun bersama: Aromamu, keringat di lehermu, hangat perutmu saat memelukmu lama di sana.

Seperti kura-kura membiarkan telurnya hangat, kusimpan juga semuanya dalam ruangan pengap itu.


Dari ruang-ruang kosong rumahmu, dari balik jendela-jendela yang hampir beku ditiup angin utara, tak seorang pun memperhatikan, per- jalanan ingatanku menuju kematian.

 


Tiba-tiba, kita menjadi orang-orang yang tergesa-gesa

kita ingin menetaskan telur kura-kura lebih cepat dari biasanya Kita ingin angin utara berbalik dari selatan


Kita tak menanam apa-apa,

takut tidak bisa memanen apa-apa?

jangan menyesal, biarkan aku saja yang menyesal

betapa sial masa silamku, yang tak kuhabiskan sejak awal bersamamu



Jogjakarta 2012


Komentar

Postingan Populer