Impresi
Duduk di bawah jam dinding yang berdetak ada suara yang masuk melesat
kemudian menabuh gendang-gendang telingaku semaunya Ia kukuh membawaku pada masa silam
Tanpa peringatan,
menerobos dan mengintimidasi
Dipaksanya aku percaya, bahwa ia dan akulah pemilik suara itu
Di luar, hujan gerimis menderai halus pada daun dan cabang pohon merembes lewat kaca jendela
bersama sisa semilir dan dingin angin Sementara bulan yang merah muda menyinar ke dalam kamar, membias gerimis mencipta melakolia yang durhaka
Aku tak bisa menyaksikan apa-apa setelah luka yang lama
dalam perjalanan rantau yang juga lama Setelah batu yang beku
tak lagi bisa kutafsirkan sebagai obat waktu
Aku menutup luka yang ngalir meraba dada yang bata
panas terbakar api berlama-lama
Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak
menepikan sepi, dingin, gerimis dan angin malam-malamku Tiba-tiba kutemukan lagi suara itu
kini mengalir lunglai perlahan meminggirkan aku, menepikan bisu
suara yang semakin tabuh dan makin riak meliat dalam telinga yang belakang aku tahu
: suara ibu dan masa kecilku
Jogjakarta, Juli 2010
Komentar
Posting Komentar